Pengrajin Usaha Mikro, Tahu dan Tempe Keluhkan harga Kedelai

  • Bagikan

BNi.id, (Lampung Utara-Lampung) – Dampak Pandemi Covid-19, para Pengrajin Usaha Mikro Tahu dan Tempe mengeluhkan harga kedelai yang harganya naik dari harga. Senin (04/01/2021).

Semenjak Covid-19 ditetapkan berstatus pandemi, ada banyak sektor ekonomi domestik dan global yang terpengaruhi. Dampak pandemi paling terasa terjadi pada sektor usaha mokro, kecil, dan menengah (UMKM).

Hal tersebut juga dirasakan oleh para Pengrajin Usaha Mikro Tahu dan Tempe yang mengeluhkan harga kedelai yang naik dari harga, yakni dari Rp.7.200/kg naik menjadi Rp.9.000/kg.

Hal tersebut tentunya tidak saja dikeluhkan produsen tahu Dan tempe tapi imbas kenaikan tahu dan tempe dirasakan Konsumen.

Saat awak Media BNI.id mencoba menelusuri Pengrajin yang beralamatkan di perumahan Kopti LK.03/RT 06 Kel. Sribasuki pada Senen (04/01) hari ini.

Sojono selaku Ketua kelompok mengatakan” Dengan naiknya harga kedelai, Pengrajin terpaksa menaikan harga tahu dan tempe dipasaran.

“Harapan Para pengrajin tahu dan tempe tentunya Pemerintah dapat memperhatikan Usaha Kecil seperti kami,harga kedelai dinormalkan kembali kalau bisa berkisar Rp 7200 baik Petani, pengrajin dan konsumen dapat merasakan standar harga yang sesuai,” pungkasnya.

Ia, juga mengatakan bahwa dengan adanya kenaikan harga bahan baku yakni tahu dan tempe tersebut, mereka merasa berat karena harus juga harga yang dijual ikut naik untuk mengimbangi antara modal dan pendapatan.

“Dengan naiknya harga bahan baku kedelai ditenggah masa Pandemi ini cukup berat dirasakan bagi kami selaku pengrajin dan kalau bisa Pemerintah dapat memberikan bantuan,” pungkasnya. (Rosadi/05)

Editor : AR Tjereni

  • Bagikan
error: Bedah Nusantara