Memaknai Goresan Sebuah Hati Nurani

43

Penulis: Syam Hunter

“Dalam mendalami tentang hati nurani adalah suatu proses kognitif yang menghasilkan perasaan dan pengaitan secara rasional berdasarkan pandangan moral atau sistem nilai seseorang”

Hati nurani berbeda dengan emosi atau pikiran yang muncul akibat persepsi indrawi atau refleks secara langsung, misalnya tanggapan sistem saraf simpatis. Dalam bahasa awam, hati nurani sering digambarkan sebagai sesuatu yang berujung pada perasaan menyesal ketika seseorang melakukan suatu tindakan yang bertentangan dengan nilai moral mereka.

Nilai moral seorang individu serta ketidaksesuaiannya dengan penafsiran pemikiran moral keluarga, sosial, budaya, maupun sejarah, dipelajari dalam studi relativisme budaya dalam bidang dan praktik psikologi.

Sejauh mana peran hati nurani dalam menggerakkan penilaian moral seseorang sebelum bertindak dan apakah penilaian moral tersebut memang atau sebaiknya didasarkan pada akal budi, telah memercik perdebatan yang sengit antara filsafat Barat melawan teori-teori romantisme dan gerakan reaksioner lainnya setelah berakhirnya Abad Pertengahan.

Pandangan keagamaan tentang hati nurani umumnya mengatakan bahwa hati nurani terkait dengan suatu moralitas yang melekat dalam diri semua manusia, melekat dengan sebuah alam semesta yang baik, atau melekat kepada pengada yang bersifat ketuhanan.

Berbagai sifat agama, yaitu sifat ritualistis, mitis, doktrinal, institusional, dan material, mungkin tidak selalu sejalan dengan pertimbangan pengalaman, emosional, spiritual, atau kontemplatif mengenai asal mula dan cara kerja hati nurani.

Pandangan sekuler atau ilmiah umumnya menyatakan bahwa hati nurani mungkin ditentukan secara genetis, sementara subjek-subjek hati nurani kemungkinan dipelajari atau merupakan hasil imprinting sebagai bagian dari budaya.

Metafora yang biasanya digunakan untuk hati nurani adalah “suara hati” sementara Sokrates bergantung kepada sesuatu yang disebut oleh orang-orang Yunani Kuno dengan nama “suara daimonik”, yakni semacam suara hati yang menjauhkan diri dari kesalahan dan hanya terdengar saat ia akan membuat kesalahan

Mengetahui apakah bisikan hati nurani terkategori nurani adalah dengan mengetahui apakah bisikan hati itu baik dan bermanfaat untuk orang banyak ataukah tidak. Sebab, kalau bisikan hati nurani cenderung kepada bisikan buruk dan jahat, itu dinamakan dengan dzulmani (kegelapan diri).

Kalau kita gagal menetapkan bisikan hati nurani menjadi perilaku, tidak perlu gelisah dan menggerutu. Bukankah peraturan hanya membantu mengarahkan dan belum menjamin terlaksananya apa yang kita inginkan? Ingat, manusia terus berproses memahami kebaikan dan kebenaran yang disampaikan. Wallahua’lam.

Penulis Adalah Pemred Bedah Nusantara Indonesia