Sidang Ke-5 Diananta, 3 Saksi Dihadirkan

35

BNI. Id, (Kota Baru – Kalsel) – Sidang ke-5 Diananta Putra Sumedi, eks Pimred banjarhits.id digelar di Pengadilan Negeri Kotabaru yang dimana dengan agenda sidang pemeriksaan saksi yang dihadirkan pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini dipimpin Hakim Ketua Meir Elesabeth Batara Randa, bersama dua Hakim Anggota Masmur Kaban dan Yunus Tahan D Sipahutar, “Silakan foto sebelum saya membuka sidang,” ucap Meir. Rabu. (1/7/2020).

Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum, Rizki Purbo Nugroho dan Elia Hendrasta menghadirkan tiga orang saksi, Sukirman, Ketua Majelis Ummat Kepercayaan Indonesia (narasumber) yang melaporkan Diananta), Riwinto, Kepala Desa Cantung Kiri Hilir, dan Muhammad Amrullah, Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kotabaru.

Sebelum diperiksa, ketiga saksi disumpah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.
Sukirman disumpah berdasarkan agama kepercayaan kepada Nining Batara (keharingan), Riwinto berdasarkan agama Kristen Protestan, dan Muhammad Amrullah berdasarkan agama Islam.

Saksi, Sukirman menjadi yang pertama diperiksa dan didengarkan kesaksiannya dalam persidangan ini.
Di antara yang ditanyakan JPU kepada Sukirman terkait pertemuannya dengan terdakwa Diananta di Kota Banjarmasin di kantor Pengacara Bujino A Salan sampai dengan terbitnya pemberitaan yang berjudul, “Tanah Dirampas Jhonlin”, Dayak Mengadu ke Polda Kalsel yang terbit di situs berita kumparan.com/banjarhits.id.

“Sukirman membantah sebagian dalam pemberitaan itu yang tidak ada kata-kata saya itu kan H Isam, “nama lengkapnya kan saya tidak tahu tuh saya tidak kenal dan tidak tahu nama Andi Syamsudin Arsyad itu H Isam, tidak pernah mengatakan kalau tidak ada hasilnya dayak siap melawan, wawancara tidak direkam”. ujar Sukirman.

Ketua Tim Penasehat Hukum, Bujino A Salan mengkonfirmasi lagi pertemuan antara saksi Sukirman dan terdakwa Diananta, Sukirman mengakui ada mengobrol dan wawancara dengan Diananta di kantor Bujino di Banjarmasin pada Nopember 2019, lalu.

Terkait isi pemberitaan yang mengakibatkan Diananta dilaporkan ke Polda Kalsel itu, Sukirman mengaku hanya mewanti-wanti jangan sampai permasalahan lahan antara PT Jhonlin Agro Raya dan warga Desa Cantung Kiri Hilir itu mengakibatkan terjadi konflik antar suku seperti di Paser, Penajam, Kaltim.

Dalam hal ini Sukirman mengaku, pada tanggal 8 Nopember 2019 ada menerima link berita yang dia keberatan itu sehingga melaporkan Diananta ke Polda Kalsel pada tanggal 14 Nopember 2019 lalu.

Selanjutnya, pada tanggal 9 Nopember 2019, Sukirman mengaku menghadiri HUT Forum Intelektual Dayak Nasional (FIDN) Kalsel di Banjarmasin, (dalam persidangan terungkap) di sana ada terdakwa Diananta meliput acara FIDN itu.

Sukirman juga mengakui tidak pernah menyatakan keberatan kepada Bujino terkait isi pemberitaan.

Tanggal 10 Nopember 2019, malam Sukirman mengaku pulang ke Kotabaru sebelum melaporkan Diananta ke Polda Kalsel, Sukirman mengaku ada bertemu H Isam atau H Andi Syamsuddin Arsyad.

Kemudian Sukirman mengaku melapor ke Polda Kalsel yang didampingi Dewan Adat Dayak (DAD) Kalsel, DAD Kotabaru, dan KKSS Kotabaru sekaligus melapor ke Dewan Pers.

“Bertemu Diananta tiga kali. Pertama di rumah sampean (Bujino), kedua di acara ulang tahun FIDN, terus yang ketiga di Dewan Pers,” aku Sukirman setelah diingatkan dalam sidang.

“Saya punya risiko, punya tanggung jawab, saya dituntut dari berbagai pihak kalau tidak cepat dikendalikan. Cuma syukurnya kita sosialisasi ke pengurus supaya jangan sampai merambah ke mana-mana.” ujar Sukirman.

Lanjut, “Jadi sebelum api membesar dipadamkan dulu, sambung Meir mengkonfirmasi Sukirman.
“Iya,” kata Sukirman.

Pembicaraan Sukirman dalam pertemuan dengan H Isam, terkait isi berita dan mengaku mendapat bantuan dari PT JAR.
“Awalnya kita ditanya oleh pa Haji apa yang diperlukan, kita tidak ada permintaan, tidak ada proposal.

Kalau ditanya keperluan ya kita sangat perlu banget, saat ini pemerintah tidak mengasih apa-apa ke kita cuma mengasih kepercayaan dibuatkan rumah besar buat keharingan, legalitas hukumnya, tapi secara fisik bangunan tidak ada.

Jadi ada keikhlasan dari Haji Isam kalau balai adat itu masih lokal, tapi kalau dibangunan kantor MUK (majelis ummat keharingan) itu sudah keterwakilan.

Jadi kita sampaikan, ” Ji kalau sampean mau membantu kami, kami terima kasih seperti itu kemarin Akhirnya dibantu Rp 800 juta. ” ucap Sukirman dalam sidang.

“Apakah sampean sadar dengan melaporkan Diananta ke Polda Kalsel akibatnya Diananta ditahan, padahal di lapangan tidak ada permasalahan konflik antar suku seperti yang dikhawatirkan sambung Agus Supiani, Anggota Tim Penasehat Hukum Diananta bertanya kepada Sukirman.

“Harapan kita sampai kita melapor itu, bahasa kita itu jangan dibesarkan lah, jadi kita mengingatkan para wartawan. Tidak ada niat saya agar Diananta ditahan.” ucap Sukirman.

Selanjutnya saksi Riwinto diminta kesaksiannya dalam persidangan.

Terkait pemberitaan, Riwinto membenarkan sebelum berita itu muncul, di kantor Bujino A Salan di Banjarmasin dia mengaku ada berbicara atau ngobrol atau wawancara dengan terkdakwa Diananta yang isi pembicaraannya terkait penggusuran lahan masyarakat di Desa Cantung Kiri Hilir (500 hektare) yang tidak ada pemberitahuan kepada Kepala Desa. “Saat itu di samping mas Nanta juga ada Sukirman. bebernya.

“Saya tidak setuju Diananta dilaporkan,” tegas Riwinto menjawab pertanyaan Agus Supiani.

Sementara saksi Muhammad Amrullah dalam kesaksiannya, intinya hanya mengkhawatirkan isi pemberitaan yang menyinggung etnis tertentu yang ia rasa sangat berbahaya karenanya pihaknya bersama Sukirman melaporkan pemberitaan itu ke Polda Kalsel dan ke Dewan Pers.” ungkapnya.

Amrullah mengaku dihubungi masyarakatnya dan diminta klarifikasi pemberitaan itu dan paling tidak diminta dicabut pemberitaan itu supaya tidak terjadi keresahan di masyarakat.

Akhirnya Sidang ditunda dan akan dilanjutkan, pada Senin, 6 Juli 2020, dengan agenda masih pemeriksaan saksi dari JPU. (Vivid/06).

Editor : A. Nurul Falah.